44T

44T

Menjemput Lailatul Qadar


Suatu sore di pojok pasar Kartasura...
‘Wah… pisangipun sae-sae Mbah…’ kataku sembari berjongkok di depan perempuan sepuh yang berjualan di pinggir jalan depan pasar.
 ‘Mangga, Pak… ditumbasi Mbahe…’ tawar perempuan itu riang.
(Silahkan Pak... Dibeli jualan Mbahnya)
Sungguh sudah sangat sepuh. Rautnya penuh kerut. Kulitnya hitam. Kurus badannya. Tapi suaranya cemengkling riang, giginya terlihat masih utuh.
‘Niki kepok kuning… sae nek dikolak.
(Ini kepok kuning, enaknya dibikin kolak)
Niki kepok putih… nek digoreng langkung manis’
(Ini kepok putih, kalo digoreng manis)
Lha nek niki gedhang kawista, kulit tipis…arum manis.
Ning ampun dipundhut sik… soale dereng mateng…’
(Tapi jangan dibeli dulu soalnya belum matang)
Aku hanya diam memperhatikan gerak tangannya yang cekatan tapi telah dredeg dredeg gemetar.
‘Sampun dangu sadeyan, Mbah…?’
(Sudah lama jualan, Mbah)
Dereng…. niki rak nyrempeng pados rejeki ngge bakdo ?’
(Belum, ini khan sambil nyari rejeki untuk Lebaran)
‘Putra pinten Mbah?’
‘Kathah , pak… pun sami glidik/kerja…’
(Banyak pak... Sudah pada kerja)
‘Kok mboten rehat mawon to Mbah… siam-siam kok sadeyan’
(Kok tidak istirahat saja to Mbah, puasa2 kok jualan)
‘Lha margi siam niku to pak, mboten pareng rehat…
Mumpung Gusti Allah paring sehat…’
(Lha karena puasa itu pak, tidak boleh istirahat. Mumpung Gusti Allah memberikan kesehatan)
Aku tercenung dengan jawaban perempuan sepuh itu.
Kulihat tangannya ngelap kening dan dahinya yang dleweran keringat dengan selendang lusuhnya.
Diantara para penjual ‘liar’ dipinggir jalan depan pasar itu, perempuan sepuh ini satu diantaranya yang menggelar dagangan tanpa iyup-iyup (tempat berteduh).
Padahal hari ini panas luar biasa...
----------------------------------------------
‘Nek kundur jam pinten Mbah?’
(Kalo pulang jam berapa Mbah?)
‘Jam tiga pun wangsul pak… lha enten kewajiban nyiapke wedang kangge lare lare TPA’
(Jam 3 pulang karena ada kewajiban menyiapkan minuman utk anak-anak TPA)
‘Kok kewajiban, sing wajibaken sinten Mbah?’
(Kok kewajiban, yang mewajibkan siapa Mbah)
‘Nggih kula piyambak, pak…’
(Yaa saya sendiri Pak)
‘Ooo… ngaten…. saben dinten, selama puasa?’
(Ooo begitu, setiap hari, selama bulan puasa?)
“Inggih… wong naming cah seketan..’
(Iya... Wong hanya lima puluh-an anak)
‘Wah panjenengan hebat nggih Mbah…’
‘Halah mung wedang kalih panganan cilik-cilikkan..’
(Halah cuma minuman sama makanan kecil)
‘Sing penting bocah-bocah sregep ngaji…pun seneng kula.
(Yang penting anak2 rajin mengaji sudah senang saya)
Ampun bodho kaya Mbahe niki… kula isane mung Patikah…’
(Jangan bodoh seperti saya ini, bisanya hanya Patikah --- maksudnya Al-Fatihah)
----------------------------------------------
Aku makin tercekat.
Kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.
‘Kok kathah sanget pak… badhe kagem napa?’ tanyanya heran.
(Kok banyak sekali pak, mau untuk apa?)
Aku hanya tersenyum.
‘Sedaya pinten Mbah?’
(Berapa harganya Mbah?)
Perempuan sepuh itu menyebutkan nominal yang membuatku tercengang.
‘Kok murah sanget Mbah…’
‘Mboten… pun pas niku, niki rak mboten pisang kulakan, panen piyambak...’
(Nggak, sudah pas itu. Ini khan bukan pisang kulakan, tapi hasil panen kebun sendiri)
‘Nggih…matur nuwun…’ kataku sembari mengulurkan uang..
‘Aduh… mboten enten susukke pak, dereng kepayon…’
(Aduh tidak ada kembaliannya, belum ada yang laku dari tadi)
‘Kula lintu-aken rumiyin nggih Mbah…’
(Saya tukarkan dulu yaa Mbah)
Aku sengaja meninggalkan perempuan sepuh itu.
Pisang telah kuletakkan di motor.
Mesin motor pun kunyalakan.
Agak menjauh dari perempuan sepuh itu...
Kumasukkan beberapa lembar uang lima ribuan yang masih baru, ke dalam amplop,
Cukup dibagi satu satu untuk anak TPA yang katanya cah seketan (anak lima puluhan jumlahnya) tadi.
Penutup lem ampop kubuka lalu kurapatkan.
‘Niki mbah, pun kula lintu-aken… artane pun pas nggih…’
(Ini mbah, sudah saya tukarkan, uangnya sudah pas yaa)
Perempuan sepuh itu menerima amplop masih dengan tangan dredeg gemetar.
Tanpa menunggu jawaban, aku segera pergi.
----------------------------------------------
Besok-besoknya aku mampir lagi… tapi lapaknya kosong.
Berikutnya aku mampir lagi… kosong juga.
Penasaran kutanyakan pada Mbak pedagang sebelahnya.
‘Mbahe mboten sadeyan Mbak?
(Mbahnya tidak jualan, Mbak?)
‘Oh mboten… Mbahe sadean nek namung panen pisang, pak…?’
(Oh tidak... Mbahnya jualan kalo sedang panen pisang saja)
‘Sampean tho ingkang maringi amplop rumiyin…
(Anda tho yang memberikan amplop kemarin ini...)
Walah Mbahe nangis ngguguk pak… sujud syukur... jare bejo, angsal-angsale qodaran..’
(Walah Mbahnya nangis terharu pak... Sujud syukur. Katanya beruntung, mendapatkan berkah qodaran)...
----------------------------------------------
Qodaran barangkali yang dimaksudkan adalah lailatul qodar.
Malam yang konon lebih baik dari 1.000 bulan.
Allah melapangkan rejeki dan kemulian bagi siapa saja yang dikehendaki...
Pun mempersempit bagi siapa saja yang dikehendaki pula.
Lantas siapakah yang mendapatkannya??
----------------------------------------------
Barangkali perempuan sepuh inilah yang mendapatkannya.
Bukan karena ia ahli ibadah...
Bukan pula karena i’tikafnya yang kuat di masjid.
Tapi dialah pelaksana amalan langsung --- meskipun katanya ‘hanya’ bisa Al-Fatihah...
Kesungguhan yang luar biasa.
Bertindak, berlaku dan berpasrah dalam keriangan rasa.
Kecintaannya yang sederhana dalam penyiapan wedang dan panganan bagi bocah ngaji selama bulan puasa, sungguh bukan perkara mudah.
Hanya cinta tuluslah yang bisa.
Cinta tulus kepada Rabb-nya, sebuah panggilan jiwa naluri seorang hamba pada Sang Pencipta.
Meskipun mungkin "miskin" keilmuan, namun jiwanya sungguh-sungguh "kaya"...
----------------------------------------------
Aku jadi merenungkan keinginan setiap orang, termasuk diriku sendiri, yang berharap sangat untuk "mendapatkan" lailatul qodar di tiap Ramadhan !
Maka jatuh malu diriku dalam instropeksi singkat...
Sungguh, malam terbaik dari 1.000 bulan bukanlah sesuatu yang instan.
Tak sekedar bisa diperjuangkan atau dijemput di akhir Ramadhan...

Karena senyatanya semua butuh proses, yang dibangun dengan menapis kebaikan : sebelum, selama dan sesudah Ramadhan.

Itulah sesungguhnya Qodaran…

Bonus tak berbatas untuk hamba-hamba Allah yang senantiasa istiqomah beribadah untuk menggapai ridho-Nya...

Barakallah...
----------------------------------------------
Taqabalallahu minna wa minkum

#Dituliskan kembali dari sebuah kisah hikmah

Subscribe to receive free email updates:

close